Harga RAM Melonjak Gila-gilaan, Ini Taktik Darurat: Pakai RAM Laptop di PC Desktop

Ram

Lonjakan harga memori komputer dalam beberapa bulan terakhir membuat banyak calon perakit PC mengernyitkan dahi. Alih-alih semakin terjangkau, komponen penting seperti RAM justru melesat jauh dari harga normal. Situasi ini bahkan disebut sebagai salah satu periode terburuk untuk membangun PC baru, terutama bagi pengguna dengan anggaran terbatas.

Kenaikan harga ini bukan terjadi tanpa sebab. Seiring meningkatnya adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), kebutuhan memori untuk pusat data dan server melonjak drastis. Akibatnya, produsen DRAM dan NAND lebih memprioritaskan pasokan untuk sektor enterprise dibanding pasar konsumen. Dampaknya pun langsung terasa di level pengguna rumahan.

Berdasarkan data dari PCPartPicker, harga memori konsumen mengalami lonjakan ekstrem. Kit RAM DDR4 berkapasitas 32 GB yang sebelumnya bisa didapat dengan harga di bawah USD 100, kini mendekati USD 250. Sementara itu, DDR5 mengalami kenaikan lebih tajam lagi, dari kisaran USD 100 menjadi hampir USD 400 hanya dalam hitungan bulan. Dengan kondisi tersebut, wajar jika banyak pengguna menunda atau bahkan membatalkan rencana upgrade PC.

Advertisement

Di tengah situasi ini, tren menarik mulai bermunculan. Prosesor generasi lama, khususnya AMD Ryzen yang masih mendukung DDR4, kembali diminati. Alasannya sederhana: menghindari biaya tinggi RAM DDR5. Namun demikian, bagi pengguna yang tidak memiliki pilihan selain tetap merakit PC baru, muncul satu solusi tak biasa yang kini mulai dilirik.

Solusi tersebut adalah menggunakan RAM laptop atau modul SO-DIMM pada PC desktop. Ide ini kembali ramai diperbincangkan setelah diulas oleh YouTuber Hardware Canucks, yang menjelaskan bahwa RAM laptop sebenarnya bisa dipasang di motherboard desktop dengan bantuan adaptor khusus SO-DIMM ke DIMM.

Adaptor ini relatif murah dan mudah ditemukan, dengan harga berkisar antara USD 15 hingga USD 30. Dengan perangkat tambahan tersebut, modul RAM laptop dapat dikenali dan digunakan layaknya RAM desktop biasa. Menariknya, meskipun harga RAM laptop juga terdampak kenaikan akibat AI, harganya masih cenderung lebih rendah dibanding modul DIMM desktop, terutama di pasar barang bekas seperti eBay.

Advertisement

Namun begitu, solusi ini tentu bukan tanpa catatan. Hardware Canucks mengingatkan bahwa pengguna DDR5 sebaiknya memilih RAM laptop dengan kecepatan standar 4.800 MT/s. Pasalnya, modul dengan kecepatan lebih tinggi berpotensi menimbulkan masalah kompatibilitas dan stabilitas, khususnya pada platform AMD. Di sisi lain, DDR4 dinilai lebih fleksibel dan minim risiko.

Selain aspek kompatibilitas, faktor fisik juga perlu diperhatikan. Penggunaan adaptor membuat tinggi modul RAM bertambah beberapa milimeter. Meski terlihat sepele, hal ini bisa menjadi masalah serius pada casing berukuran kecil seperti mini-ITX. Oleh karena itu, pengguna disarankan memastikan ruang di sekitar slot RAM benar-benar mencukupi sebelum mencoba pendekatan ini.

Lantas bagaimana dengan performanya? Berdasarkan pengujian yang dilakukan, penurunan kinerja akibat penggunaan RAM laptop tergolong kecil. Baik dalam skenario gaming kelas atas maupun beban kerja produktivitas seperti rendering dan kompresi data, selisih performa umumnya hanya berada di kisaran satu digit persen. Dengan kata lain, untuk penggunaan sehari-hari, dampaknya nyaris tidak terasa.

Advertisement

Meski demikian, pendekatan ini tetap tidak disarankan sebagai solusi permanen. Hardware Canucks mengibaratkannya seperti ban serep pada mobil. Ia bisa digunakan saat darurat dan tetap membawa pengguna ke tujuan, tetapi bukan pilihan ideal untuk jangka panjang. Stabilitas, kompatibilitas, dan keterbatasan upgrade tetap menjadi pertimbangan utama.

Dengan prediksi kekurangan pasokan memori yang diperkirakan masih akan berlanjut hingga 2026, bahkan mungkin 2027, pengguna PC mau tak mau harus berpikir lebih kreatif. Mulai dari memanfaatkan komponen bekas, menahan diri untuk upgrade, hingga mencoba solusi alternatif seperti RAM laptop di desktop.

Pada akhirnya, strategi ini menunjukkan satu hal penting: di tengah tekanan harga dan dominasi kebutuhan AI, pasar PC konsumen dipaksa beradaptasi. Bagi sebagian orang, kreativitas menjadi kunci untuk tetap bisa merakit PC tanpa harus menguras dompet terlalu dalam. Namun bagi yang mengutamakan kestabilan jangka panjang, menunggu harga kembali normal mungkin masih menjadi pilihan paling aman.

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.