Perempuan Modern Punya Banyak Peran, UNIQLO Angkat Isu Ini di Women’s Day 2026

Uniqlo Iwd 2026 3

Perempuan modern kerap menjalani berbagai peran sekaligus. Mereka bisa menjadi profesional di kantor, pemimpin tim, sekaligus pengasuh di rumah. Kompleksitas identitas ini yang kemudian disoroti oleh UNIQLO dalam peringatan International Women’s Day 2026.

Bekerja sama dengan Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), perusahaan ritel asal Jepang tersebut menggelar diskusi bertajuk “Interseksionalitas: Menavigasi Berbagai Lapisan Hambatan dalam Kehidupan Profesional” di Jakarta, 5 Maret 2026. Diskusi ini bertujuan mendorong pemahaman yang lebih luas tentang keberagaman identitas di tempat kerja serta pentingnya kepemimpinan yang inklusif.

Img 5199
Perempuan Modern Punya Banyak Peran, UNIQLO Angkat Isu Ini di Women’s Day 2026 6

Paradiva, dalam dunia kerja yang semakin dinamis, keberagaman latar belakang karyawan menjadi realitas yang tidak bisa diabaikan. Setiap individu membawa identitas yang berlapis, mulai dari gender, usia, latar belakang pendidikan, hingga kondisi sosial ekonomi. Kombinasi faktor tersebut sering kali membentuk pengalaman kerja yang berbeda bagi setiap orang.

Advertisement

Konsep ini dikenal sebagai interseksionalitas, yakni cara pandang yang melihat identitas seseorang tidak berdiri sendiri, melainkan saling beririsan dan memengaruhi perjalanan karier mereka. Dalam praktiknya, seorang perempuan misalnya bisa menghadapi tantangan berbeda dibandingkan rekan kerja laki-laki, terutama ketika ia juga memiliki peran lain di luar pekerjaan.

Melalui diskusi tersebut, UNIQLO menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai latar belakang, antara lain Irma Yunita selaku Director Corporate Affairs UNIQLO Indonesia, Fetty Kwartati dari PT Tara Naya Karsa, Rhaka Ghanisatria sebagai Co-Founder Menjadi Manusia, serta Wita Krisanti dari IBCWE.

Mereka membahas bagaimana konsep interseksionalitas dapat membantu perusahaan memahami realitas yang dihadapi karyawan secara lebih utuh. Dengan memahami kompleksitas identitas tersebut, organisasi diharapkan mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih adil sekaligus mendukung perkembangan karier setiap individu.

Advertisement

Saat ini, banyak perusahaan telah menerapkan kebijakan Diversity, Equity & Inclusion (DEI). Namun pendekatan interseksional mendorong organisasi untuk melangkah lebih jauh. Perusahaan tidak hanya diminta menghadirkan keberagaman, tetapi juga memahami bagaimana berbagai faktor sosial saling memengaruhi pengalaman seseorang di tempat kerja.

Img 5198
Perempuan Modern Punya Banyak Peran, UNIQLO Angkat Isu Ini di Women’s Day 2026 7

Sejumlah penelitian global bahkan menunjukkan bahwa perusahaan dengan kepemimpinan yang lebih beragam cenderung memiliki tingkat inovasi lebih tinggi dan kinerja bisnis yang lebih baik. Dengan kata lain, inklusi tidak hanya berkaitan dengan isu sosial, tetapi juga menjadi strategi penting bagi keberlanjutan bisnis.

Di Indonesia sendiri, percakapan mengenai kepemimpinan inklusif terus berkembang. Meski demikian, tantangan masih ada, mulai dari budaya kerja yang hierarkis hingga bias tidak sadar yang kerap muncul dalam pengambilan keputusan.

Advertisement

Irma Yunita selaku Director Corporate Affairs UNIQLO Indonesia menjelaskan bahwa keberagaman bukan sekadar tentang representasi. Lebih dari itu, perusahaan perlu memastikan setiap individu memiliki ruang untuk berkembang dan berkontribusi secara autentik.

“Di industri ritel yang bergerak cepat, menjaga keseimbangan antara performa bisnis dan kepemimpinan inklusif memang tidak selalu mudah. Namun justru di situlah kualitas seorang pemimpin diuji,” imbuhnya. 

Sebagai bagian dari perusahaan global, UNIQLO Indonesia menerapkan sistem pengembangan karyawan berbasis kompetensi dan kinerja. Perusahaan juga membuka akses pelatihan kepemimpinan bagi berbagai level karyawan, termasuk perempuan dan talenta muda.

Advertisement

Selain itu, UNIQLO mendorong terciptanya dialog terbuka antara manajemen dan karyawan. Upaya ini dilakukan agar setiap individu merasa didengar dan dihargai di lingkungan kerja. Semua inisiatif tersebut juga dijalankan dengan mengacu pada standar global perusahaan yang menjunjung prinsip kesetaraan.

Diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya organizational allyship, yakni peran individu—terutama pemimpin—untuk menjadi sekutu bagi rekan kerja yang memiliki latar belakang berbeda. Menjadi sekutu tidak berarti selalu memiliki jawaban, tetapi menunjukkan kemauan untuk mendengar serta terus belajar.

Dalam praktiknya, sikap ini bisa terlihat dari hal-hal sederhana. Misalnya, pemimpin memberi kesempatan yang sama bagi anggota tim untuk berbicara dalam rapat, mendukung fleksibilitas kerja, atau berani mengoreksi bias yang mungkin muncul tanpa disadari.

Advertisement

Pendekatan ini terbukti memiliki dampak positif terhadap budaya kerja. Ketika karyawan merasa aman dan dihargai, mereka cenderung lebih percaya diri menyampaikan ide maupun perspektif baru.

Bagi perusahaan, Irma menegaskan bahwa kondisi tersebut tentu menjadi aset berharga. “Tim yang beragam dan inklusif biasanya lebih adaptif menghadapi perubahan serta mampu menghadirkan inovasi yang relevan di tengah persaingan industri,” pungkasnya. 

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.