Bahaya Chatbot AI untuk Terapi Mental Terungkap, Studi Sebut Bisa Langgar Kode Etik Psikolog

Chatbotai

Penggunaan chatbot berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk layanan kesehatan mental kini semakin meluas di berbagai negara. Banyak orang mulai memanfaatkan teknologi ini untuk mencari dukungan emosional, konsultasi ringan, hingga tempat bercerita ketika menghadapi tekanan mental.

Namun di balik kemudahan tersebut, sebuah penelitian terbaru justru menemukan adanya risiko serius dari penggunaan AI sebagai “terapis digital”. Penelitian dari Brown University mengungkap bahwa chatbot AI berpotensi melanggar kode etik profesi psikologi dan dinilai belum aman untuk menangani masalah kesehatan mental secara penuh.

Temuan ini menjadi sorotan karena penggunaan AI dalam layanan terapi mental terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, masyarakat juga mulai melihat chatbot AI sebagai alternatif yang cepat, murah, dan mudah diakses kapan saja.

Advertisement

Chatbot AI Dinilai Belum Siap Menjadi Terapis

Dilansir dari Psychology Today, penelitian tersebut menunjukkan bahwa large language models (LLM) atau model bahasa besar yang digunakan dalam chatbot AI sering gagal mematuhi standar etik kesehatan mental, termasuk pedoman dari American Psychological Association (APA).

Penulis utama penelitian, Zainab Iftikhar, menegaskan bahwa psikoterapi bukan sekadar proses tanya jawab biasa yang bisa diselesaikan dengan sistem komputasi sederhana.

Menurutnya, terapi mental membutuhkan pemahaman emosional mendalam, tanggung jawab profesional, serta kepatuhan ketat terhadap kode etik psikologi. Hal inilah yang hingga kini masih sulit dipenuhi oleh teknologi AI.

Advertisement

“Psikoterapi bukan hanya soal memberi jawaban atau respons cepat. Ada aspek empati, keamanan, hingga perlindungan terhadap kondisi psikologis pasien,” ungkap tim peneliti dalam laporan tersebut.

Penelitian ini dilakukan selama 18 bulan dengan melibatkan tujuh konselor sebaya terlatih dan tiga psikolog klinis berlisensi. Mereka mengevaluasi perilaku chatbot AI saat melakukan simulasi sesi konseling mental.

Beberapa model AI yang diuji dalam penelitian tersebut meliputi GPT-4, GPT-3.5, GPT-3.0, Llama 3.1, Llama 3.2, Claude 3 Haiku, hingga Claude 3 Sonnet.

Advertisement

Ditemukan 15 Bentuk Pelanggaran Etik

Dari total 137 sesi konseling yang dianalisis, peneliti menemukan sedikitnya 15 bentuk pelanggaran etik yang kemudian dibagi ke dalam lima kategori utama.

Kategori pertama adalah kurangnya pemahaman konteks. Dalam banyak kasus, chatbot AI dianggap gagal memahami situasi emosional pengguna secara utuh. AI juga kerap memberikan respons yang terlalu umum sehingga terkesan menyederhanakan masalah hidup seseorang.

Selain itu, AI dinilai buruk dalam membangun kolaborasi terapeutik. Dalam terapi psikologi, hubungan antara terapis dan pasien menjadi salah satu faktor penting dalam proses pemulihan mental. Namun chatbot AI justru cenderung mendominasi percakapan dan tidak memberi ruang interaksi yang sehat.

Advertisement

Peneliti juga menemukan adanya bentuk empati yang dianggap menyesatkan. Respons AI memang terlihat hangat dan suportif, tetapi dinilai bersifat artifisial serta berpotensi memanipulasi emosi pengguna.

Masalah lainnya adalah munculnya diskriminasi tidak adil dalam beberapa respons chatbot. Hal ini terjadi karena AI belajar dari data internet yang tidak selalu netral dan bebas bias.

Yang paling mengkhawatirkan, chatbot AI dinilai lemah dalam menangani situasi krisis dan keamanan pengguna. AI disebut memiliki keterbatasan besar ketika menghadapi topik sensitif seperti trauma berat, kekerasan, hingga keinginan bunuh diri.

Advertisement

Dalam kondisi tertentu, respons yang salah justru bisa memperburuk kondisi psikologis pengguna.

Penggunaan AI untuk Kesehatan Mental Terus Meningkat

Meski memiliki banyak risiko, penggunaan AI untuk kesehatan mental justru terus berkembang secara global.

Studi lain yang dipublikasikan dalam jurnal AI & Society pada Februari 2026 menunjukkan masyarakat mulai semakin terbuka menggunakan AI sebagai penasihat kesehatan mental.

Advertisement

Survei terhadap 31 ribu responden dari 35 negara menemukan bahwa 42 persen masyarakat di Amerika Serikat dan 41 persen responden di Inggris bersedia menggunakan AI untuk dukungan kesehatan mental.

Angka tersebut bahkan jauh lebih tinggi di China, yakni mencapai 86 persen.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai melihat AI sebagai solusi praktis untuk mendapatkan dukungan emosional secara cepat tanpa harus datang langsung ke psikolog atau konselor profesional.

Advertisement

Selain faktor kemudahan akses, biaya terapi yang mahal di beberapa negara juga menjadi alasan meningkatnya penggunaan chatbot AI.

Tak hanya itu, layanan AI dianggap mampu memberikan dukungan real-time selama 24 jam penuh, sesuatu yang tidak selalu bisa dilakukan oleh tenaga profesional manusia.

Industri AI Kesehatan Mental Diprediksi Tumbuh Pesat

Pertumbuhan teknologi AI di bidang kesehatan mental juga diperkirakan akan terus melonjak dalam beberapa tahun ke depan.

Advertisement

Firma riset Grand View Research memperkirakan pasar AI untuk kesehatan mental bisa mencapai nilai 9,12 miliar dolar AS pada 2033.

Nilai tersebut menunjukkan bahwa industri ini memiliki potensi bisnis yang sangat besar. Banyak perusahaan teknologi kini berlomba menghadirkan layanan chatbot AI dengan fitur dukungan emosional dan terapi virtual.

Namun para peneliti mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tidak boleh mengabaikan aspek keselamatan pengguna.

Advertisement

AI memang dapat membantu memberikan dukungan awal atau menjadi teman bicara sementara. Akan tetapi, chatbot dinilai belum mampu menggantikan peran psikolog profesional sepenuhnya, terutama dalam kasus kesehatan mental yang kompleks.

Karena itu, peneliti mendorong pemerintah dan regulator untuk segera membuat pedoman hukum serta aturan etik yang lebih jelas terkait penggunaan AI di bidang kesehatan mental.

Langkah tersebut dianggap penting agar teknologi AI tetap bisa dimanfaatkan tanpa membahayakan kondisi psikologis masyarakat.

Advertisement

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, pengguna juga diingatkan untuk lebih bijak dalam menggunakan chatbot AI, khususnya untuk persoalan kesehatan mental yang serius.

Sebab pada akhirnya, empati manusia, pemahaman emosional, dan tanggung jawab profesional tetap menjadi hal yang belum sepenuhnya bisa digantikan oleh mesin.

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.