Karyawan Meta Protes Software Pelacak Mouse, Takut Digantikan AI dan Terkena PHK Massal

Metapelacakmouse

Gelombang protes muncul di internal Meta setelah perusahaan diketahui memasang software pelacak aktivitas mouse di komputer kerja karyawannya. Langkah tersebut memicu keresahan besar di kalangan staf karena dianggap sebagai upaya perusahaan mengumpulkan data perilaku kerja demi melatih sistem kecerdasan buatan atau AI yang nantinya bisa menggantikan manusia.

Isu ini langsung menjadi perbincangan panas di lingkungan kantor Meta di Amerika Serikat. Apalagi, protes tersebut muncul hanya beberapa hari sebelum perusahaan dikabarkan akan melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK terhadap sekitar 10 persen karyawan pada 20 Mei 2026.

Aksi penolakan karyawan dilakukan lewat penyebaran selebaran di berbagai sudut kantor. Pamflet itu ditemukan di ruang rapat, dekat mesin penjual otomatis, dispenser air, hingga area toilet kantor. Selain itu, para pekerja juga diajak menandatangani petisi online sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan perusahaan.

Advertisement

Salah satu tulisan yang muncul di pamflet tersebut berbunyi cukup keras dan menyindir kebijakan perusahaan.

“Tidak mau bekerja di Pabrik Ekstraksi Data Karyawan?” begitu isi pesan dalam selebaran yang beredar luas di internal perusahaan.

Kalimat tersebut menggambarkan kekhawatiran para pekerja bahwa aktivitas mereka kini tidak hanya dipantau untuk evaluasi kerja biasa, tetapi juga dimanfaatkan sebagai data pelatihan AI.

Advertisement

Keresahan karyawan pun semakin besar setelah sejumlah staf mulai mempertanyakan tujuan sebenarnya dari software tersebut. Banyak yang merasa privasi dan pola kerja mereka sedang dipelajari secara mendalam oleh sistem perusahaan.

Seorang manajer teknik Meta bahkan mengungkapkan rasa tidak nyamannya melalui forum internal perusahaan. Dalam komentarnya yang dikutip media Amerika Serikat, ia menyebut sistem tersebut membuat suasana kerja menjadi tidak nyaman.

Sementara itu, karyawan lain secara terang-terangan mempertanyakan apakah data aktivitas mouse mereka akan digunakan untuk menciptakan bot otomatis yang bisa menggantikan pekerjaan manusia di masa depan.

Advertisement

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan-perusahaan teknologi besar memang sedang berlomba mengembangkan AI otomatisasi kerja. Teknologi itu dirancang agar mampu menyelesaikan tugas administratif hingga operasional tanpa campur tangan manusia secara langsung.

Situasi di Meta sendiri semakin sensitif karena perusahaan sedang melakukan restrukturisasi besar-besaran. Sejak awal tahun, banyak karyawan mulai mengeluhkan tekanan kerja, ketidakpastian posisi, hingga ancaman PHK yang terus menghantui.

Di tengah kondisi itu, keberadaan software pelacak mouse justru dianggap memperburuk hubungan antara manajemen dan pekerja.

Advertisement

Chief Technology Officer Meta, Andrew Bosworth, akhirnya ikut memberikan tanggapan terkait polemik tersebut. Ia mengonfirmasi bahwa sistem pelacakan itu memang tidak bisa dinonaktifkan oleh karyawan.

Pernyataan tersebut makin memicu kritik karena banyak pekerja merasa tidak diberi pilihan terhadap pengumpulan data aktivitas mereka.

Meta sendiri membantah tudingan bahwa teknologi tersebut dibuat khusus untuk menggantikan manusia dengan AI. Juru bicara perusahaan, Andy Stone, mengatakan sistem itu digunakan untuk membantu pengembangan agen AI yang dapat memahami cara manusia menggunakan komputer dalam kehidupan sehari-hari.

Advertisement

Menurut penjelasan perusahaan, model AI membutuhkan contoh nyata seperti gerakan mouse, klik tombol, hingga navigasi menu agar sistem dapat bekerja lebih efektif.

“Jika kami membangun agen untuk membantu orang menyelesaikan tugas sehari-hari menggunakan komputer, model kami membutuhkan contoh nyata tentang bagaimana orang benar-benar menggunakannya,” demikian pernyataan Meta.

Meski begitu, penjelasan tersebut belum mampu meredam kekhawatiran para pekerja. Banyak karyawan tetap percaya bahwa data aktivitas mereka lambat laun akan dipakai untuk membangun sistem otomatis yang akhirnya mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia.

Advertisement

Fenomena ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Meta. Sejumlah perusahaan teknologi global saat ini mulai mengadopsi software pemantauan kerja berbasis AI untuk mengukur produktivitas pegawai. Sistem tersebut mampu merekam pola kerja, waktu aktif, hingga kebiasaan penggunaan perangkat komputer.

Namun, penggunaan teknologi semacam ini terus memunculkan perdebatan soal etika dan privasi pekerja. Di satu sisi, perusahaan menganggap monitoring dibutuhkan demi efisiensi dan pengembangan teknologi. Di sisi lain, pekerja merasa pengawasan berlebihan dapat menciptakan tekanan psikologis dan rasa tidak aman.

Dalam kasus Meta, protes karyawan bahkan turut mengutip Undang-Undang Hubungan Perburuhan Nasional Amerika Serikat. Mereka menegaskan bahwa pekerja memiliki hak hukum untuk berorganisasi dan memperjuangkan kondisi kerja yang lebih baik.

Advertisement

Gerakan ini menjadi salah satu bentuk perlawanan paling nyata yang muncul di internal Meta dalam beberapa tahun terakhir. Terlebih lagi, perkembangan AI yang semakin agresif kini mulai memunculkan ketakutan baru di industri teknologi: apakah manusia perlahan akan tergantikan oleh mesin yang mereka bantu latih sendiri.

Di tengah pesatnya perkembangan AI, kasus Meta memperlihatkan bagaimana teknologi tidak hanya membawa inovasi, tetapi juga memunculkan kekhawatiran baru bagi para pekerja. Bagi sebagian karyawan, ancaman terbesar saat ini bukan lagi soal target kerja, melainkan kemungkinan suatu hari posisi mereka benar-benar digantikan oleh sistem otomatis berbasis data yang mereka hasilkan setiap hari.

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.