Primaya Hospital Kelapa Gading baru saja memperkuat layanan pusat jantung dan pembuluh darah mereka melalui pengenalan teknologi ablasi jantung tanpa radiasi. Inovasi ini ditujukan untuk menangani gangguan irama jantung atau aritmia dengan metode pemetaan elektro-anatomis tiga dimensi. Berbeda dengan prosedur konvensional, teknologi ini tidak lagi bergantung pada paparan sinar X-Ray yang biasanya digunakan dalam proses tindakan medis serupa.
Pemanfaatan sistem navigasi 3D ini memungkinkan tim medis untuk memetakan jalur listrik dan struktur anatomi jantung pasien secara langsung dan sangat akurat. Hal ini memberikan tingkat presisi yang lebih tinggi bagi dokter dalam melakukan tindakan invasif minimal. Keuntungan utamanya adalah peningkatan standar keamanan, baik bagi pasien yang sedang menjalani perawatan maupun bagi para tenaga medis yang bertugas di ruang tindakan.
Pengenalan teknologi mutakhir ini dilakukan melalui acara edukatif bertajuk “Live Case – Hands on Non Fluoroscopic Ablation Course”. Kegiatan tersebut melibatkan kolaborasi antara tim spesialis jantung internal Primaya Hospital dengan pakar internasional, Prof. Yenn-Jiang Lin dari Taiwan. Sinergi ini menunjukkan komitmen rumah sakit dalam mengadopsi standar medis global untuk diterapkan di fasilitas kesehatan dalam negeri.
Baca Juga
Advertisement
Pihak Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif kolaborasi ilmiah ini sebagai langkah meningkatkan kompetensi dokter lokal. Mengingat pesatnya perkembangan teknologi medis, kerja sama antar-institusi dan pakar lintas negara dianggap sebagai kunci utama. Tujuannya adalah untuk memastikan masyarakat Indonesia mendapatkan layanan penanganan aritmia yang lebih canggih dan aman tanpa tertinggal dari tren global.
Atrial Fibrilasi (AF) menjadi perhatian utama karena gangguan irama jantung ini telah menjadi ancaman kesehatan dunia yang jumlah kasusnya terus meroket. Di Indonesia sendiri, diperkirakan terdapat jutaan penderita, namun banyak yang tidak menyadari kondisi tersebut karena tidak merasakan gejala awal. Tanpa deteksi dini, gangguan ini sering kali baru diketahui setelah pasien mengalami komplikasi serius seperti serangan stroke.
Para ahli mengingatkan bahwa gejala jantung berdebar yang sering dianggap remeh sebenarnya bisa meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat. Kelompok usia 40 hingga 60 tahun sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan rutin sebagai langkah pencegahan. Penggunaan teknologi ablasi terbaru seperti Pulse Field Ablation diklaim memiliki profil keamanan yang sangat baik dengan risiko komplikasi berat yang sangat rendah, yakni di bawah 0,2 persen.
Baca Juga
Advertisement
Manajemen Primaya Hospital Kelapa Gading menegaskan bahwa integrasi teknologi tanpa radiasi ini merupakan bagian dari visi untuk menyediakan layanan jantung yang komprehensif. Saat ini, fasilitas tersebut telah mampu menangani berbagai tindakan kompleks mulai dari angioplasti hingga bedah pintas jantung (CABG). Keberadaan teknologi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap layanan kesehatan di luar negeri.
Melalui pengembangan Cardiac & Vascular Center yang berkelanjutan, Primaya Hospital Group terus memposisikan diri sebagai penyedia layanan medis modern yang mengedepankan kualitas klinis. Pendekatan yang berfokus pada keselamatan pasien dan penggunaan alat medis terkini menjadi pilar utama rumah sakit. Dengan demikian, akses masyarakat terhadap solusi kesehatan jantung yang presisi dan aman kini semakin terbuka lebar di tanah air.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.