Penelitian: Gen Z Perlu Arahan Google Maps Setiap Melakukan Perjalanan

Gen Z
Ilustrasi Google Maps. [Foto: Unsplash/Rahul Himkar].

Sebuah survei terbaru menemukan bahwa hampir sepertiga dari Generasi Z (Gen Z) di negara Inggris mengaku perlu menggunakan GPS saat berkendara. Survei tersebut berasal dari Carmoola. 

Mengutip dari Daily Mail, survei ini melibatkan sekitar 2.000 warga Inggris. Mereka ditanya seputar preferensi menggunakan sistem navigasi satelit saat mengemudi. 

Survei tersebut menemukan bahwa Gen Z membutuhkan bantuan Google Maps di setiap perjalanan mereka. Meskipun, jarak yang ditempuhnya singkat. 

Advertisement

Penelitian ini mengungkap bahwa generasi yang lebih muda secara signifikan lebih cenderung mengandalkan alat navigasi. Bahkan, untuk rute yang sudah mereka kenal. 

Hampir sepertiga atau setara dengan persentase 28% dari pengemudi berusia 25-34 tahun mengatakan bahwa mereka selalu menggunakan sistem navigasi satelit sebagai alat yang wajib mereka gunakan setiap mengemudi. Sementara, 20% menyatakan bahwa mereka menggunakannya untuk perjalanan singkat seperti ke supermarket. 

Survei ini menunjukkan bahwa pengemudi dengan usia lebih tua, lebih percaya diri mengemudi tanpa arahan aplikasi navigasi. Sekitar dua dari sepuluh pengemudi berusia di atas 45 tahun, menggunakan aplikasi navigasi untuk setiap perjalanan. Sedangkan, 15% mengatakan mereka jarang menggunakannya sama sekali. 

Advertisement

Carmoola juga menanyakan kepada responden apa yang akan mereka lakukan jika perangkat navigasi kehilangan sinyal. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa 57% dari pengemudi berusia 55-64 tahun mengatakan mereka akan mengandalkan rambu-rambu jalan dan penanda lokasi. 

Sebaliknya, hanya 44% dari mereka yang berusia 25-34 tahun mengatakan hal yang sama. Sedangkan, 25% lainnya mengatakan mereka akan berhenti dan bertanya arah.

“Yang jelas adalah pengemudi  masa kini, mengharapkan segala sesuatunya berjalan dengan sendirinya – baik itu untuk sampai dari titik A ke titik B. Navigasi telah menjadi hal yang wajar karena menghilangkan hambatan, dan kita melihat harapan yang sama berlaku untuk seluruh pengalaman berkendara,” ungkap CEO dan Founder Carmoola Aidan Rushby. 

Advertisement

Penelitian lain dari University College London mengungkap bahwa penggunaan sistem navigasi GPS sebenarnya berpotensi mematikan sebagian otak. 

Penelitian tersebut melibatkan 24 responden yang menavigasi simulasi komputer Soho, pusat kota London. Sementara, otak mereka dipindai. 

Studi ini berfokus pada dua area otak, yakni hipokampus yang berperan dalam pembentukan memori serta korteks prefrontal. 

Advertisement

Dari penelitian ini, ditemukan bahwa upaya mencari jalan dengan mengandalkan akal sendiri, menyebabkan lonjakan aktivitas di kedua area tersebut saat para responden memasuki jalan-jalan baru. Aktivitas pada otak semakin meningkat saat mereka dihadapkan pada labirin jalanan yang berkelok-kelok. 

Sebaliknya, ketika mereka mengikuti instruksi yang diberikan oleh alat navigasi GPS atau aplikasi ponsel, otak tidak menunjukkan aktivitas tambahan. 

Professor of Cognitive Neuroscience di University College London menyatakan bahwa otak kehilangan minat terhadap jalanan di sekitar kita saat menerima arahan dari aplikasi navigasi. 

Advertisement

“Ketika kita memiliki teknologi yang memberi tahu kita ke mana harus pergi, bagian-bagian otak ini sama sekali tidak merespons jaringan jalan. Dalam hal itu, otak kita sudah kehilangan minat terhadap jalanan di sekitar kita,” tulisnya.

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.