Sejak 1964, Perempuan Ini Bikin Kamu Kenal Tinder, Bumble dan Aplikasi Kencan

Jejak inovasi Joan Ball membentuk ranah aplikasi kencan saat ini, dari kartu punch hingga swipe pintar.

Aplikasi Kencan
Joan Ball, penemu cikal bakal aplikasi kencan. (Foto: Reward Mobile)

Siapa sangka, Joan Ball yang lahir pada tahun 1934 di London, dari keluarga pekerja kelas menengah yang menghadapi pernikahan yang retak, yang lahir di tengah kekacauan perang dan tekanan sosial, menjadi perempuan yang mengenalkan kita tentang aplikasi kencan, pencarian jodoh melalui dunia maya. Inilah Techdiva yang mampu mengubah dunia, Joan Ball.

Masa kecil Joan Ball memang penuh konflik. Ketika Perang Dunia II meletus, Joan dievakuasi ke pedesaan dan mengalami pengabaian, bahkan pelecehan dalam asuhan sementara. Ia juga mengalami disleksia dan gangguan kesehatan mental yang tak terdiagnosis hingga dewasa—faktor yang membentuk karakternya dan membangkitkan semangat untuk berubah.

Walaupun awalnya Joan sempat bekerja di industri fashion, ia menyadari bahwa dunia kreatif itu didominasi pria. Kemudian, melalui pengalaman kerja di biro jodoh, Joan menemukan misi hidupnya: membantu manusia menemukan pasangan melalui metode yang lebih terstruktur dan bermakna.

Advertisement

aplikasi kencan
Aplikasi kencan ditemukan oleh Joan Ball, mantan pegawai biro jodoh.

Dari Biro Jodoh ke Aplikasi Kencan

Tahun 1962, Joan meluncurkan usaha bernama Eros Friendship Bureau Ltd—sebuah biro jodoh yang fokus pada hubungan jangka panjang, bukan sekadar kencan kilat. Namun stigma sosial terhadap biro jodoh sangat besar, sehingga ia harus menggunakan metode iklan alternatif seperti stasiun radio bajakan.

Kemudian, pada tahun 1964 ia mengubah nama usahanya menjadi St. James Computer Dating Service — dan di sinilah ia memecahkan paradigma: menggunakan computer (kartu punch) untuk mencocokkan manusia berdasarkan apa yang mereka tidak inginkan dalam pasangan, bukan hanya apa yang mereka inginkan. Ini menandai tonggak awal apa yang kemudian dikenal sebagai aplikasi kencan online—lebih dari tiga dekade sebelum era swipe.

Merintis ‘Kompatibilitas Komputer’ dan Tantangannya

Usaha Joan kemudian berkembang menjadi Com‑Pat (Computerised Compatibility) setelah merger pada 1965 dan kemudian peluncuran versi lanjut, Com-Pat 2, pada 1970.

Advertisement

Namun, perjalanan ini tidak mulus. Ia menghadapi persaingan dari Dateline yang diluncurkan pada 1966 dan lebih agresif dalam iklan — Joan tetap mempertahankan visi bahwa hubungan jangka panjang lebih penting daripada hanya “seks cepat”.

Selain itu, faktor eksternal seperti pemogokan pos selama delapan minggu pada tahun 1973, serta perubahan aturan iklan di surat kabar besar, membuat bisnis Joan mengalami tekanan besar hingga akhirnya pada 1974 ia menjual perusahaannya dengan syarat utang dilunasi oleh pembeli.

4. Warisan dan Dampak Teknologi Kencan Modern

Melangkah ke masa kini, saat Anda membuka aplikasi seperti Tinder, Hinge atau Bumble—coba pikirkan bahwa semuanya bermula dari eksperimen Joan Ball. Walaupun namanya jarang muncul di daftar tokoh teknologi besar, pengaruhnya sangat nyata: ide “kompatibilitas berdasarkan apa yang tidak diinginkan” membuka ruang bagi algoritma matching modern yang mengandalkan data, preferensi dan pola perilaku.

Advertisement

Lebih jauh lagi, kisahnya menunjukkan bagaimana seorang wanita dengan tantangan pribadi besar—disleksia, depresi, stigma sosial—justru bisa menciptakan sesuatu yang berdampak global. Karena itu, Joan adalah simbol bahwa inovasi tak selalu lahir dari pusat teknologi besar, melainkan dari visi, kegigihan, dan keinginan untuk memperbaiki kehidupan orang lain.

Saat ini kita hidup di era “swipe, match, chat”—tetapi akar dari semua ini adalah eksperimen sederhana yang dilakukan lewat mesin besar dan kartu punch di tahun 1960-an. Menyadari hal ini memberi kita perspektif bahwa perubahan besar seringkali bermula dari ide kecil yang berani.
Menyoroti kisahnya berarti memberi ruang untuk memperbaiki narasi sejarah yang timpang. Meluncurkan aplikasi kencan tanpa memperhitungkan preferensi, kecocokan dan pengalaman pengguna adalah hal yang sia-sia. Kini semuanya sudah dipikirkan sejak Joan era, yang diikuti oleh Tinder, Bumble, sampai OKCupid.

Dalam era AI, algoritma dating semakin pintar: analisis wajah, kepribadian via chat-bots, bahkan prediksi kompatibilitas menggunakan machine learning. Namun inti dari semua inovasi modern ini tetap: koneksi antarmanusia. Dan ketika kita menyadari bahwa akar-akar metode tersebut berasal dari tindakan seorang perempuan yang gigih di Inggris pada tahun 1960-an, maka narasi teknologi kita menjadi lebih kaya, lebih manusiawi. (Sumber: Code Miners)

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.

Jurnalis teknologi dan gadget sejak 2005. Mulai dari Majalah Digicom, pernah di Tabloid Ponselku, pendiri techno.okezone.com, 5 tahun di Viva.co.id, 2 tahun di Uzone.id. Pernah bikin majalah digital Klik Magazine, sempat di perusahaan VAS Celltick Technologies. Sekarang jadi founder Gadgetdiva.id, bantuin Indotelko.com dan Gizmologi.id. Supermom dengan 2 orang superkids.