Sony Corporation resmi mengumumkan penghentian produksi perekam Blu-ray Disc pada Februari 2026. Keputusan ini diambil setelah perusahaan melihat tren penurunan permintaan yang terjadi secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Langkah tersebut sekaligus menandai perubahan strategi perusahaan di tengah pergeseran perilaku konsumen yang semakin bergantung pada layanan digital dan streaming.
Mengutip laporan The Indian Express, Sony menyatakan pengiriman seluruh model perekam Blu-ray akan dihentikan secara bertahap mulai bulan tersebut. Selain itu, perusahaan memastikan tidak akan merilis model penerus. Artinya, setelah stok yang saat ini beredar di pasaran habis, konsumen tidak lagi bisa membeli perangkat perekam Blu-ray baru dari Sony.
Keputusan ini sebenarnya bukan langkah mendadak. Sejak 2024, Sony telah lebih dulu memberi sinyal dengan mengumumkan rencana penghentian bertahap pengembangan dan produksi Blu-ray Disc serta beberapa format cakram optik lainnya. Dalam periode yang sama, perusahaan juga melakukan restrukturisasi di divisi media dengan memangkas sekitar 40 persen tenaga kerja. Alasannya jelas: pasar penyimpanan optik tidak tumbuh sesuai ekspektasi industri.
Baca Juga
Advertisement
Tidak hanya perekam Blu-ray, Sony sebelumnya juga telah mengonfirmasi penghentian produksi beberapa perangkat lama seperti MiniDisc recorder, MD data drive, dan kaset MiniDV. Strategi tersebut menunjukkan perusahaan tengah mengalihkan fokus ke produk dan layanan yang dianggap memiliki prospek lebih besar di masa depan.
Sejumlah model yang terdampak penghentian produksi antara lain BDZ-ZW1900 yang dirilis pada 2024 serta seri BDZ-FBT4200, FBT2200, dan FBW2200 yang meluncur pada 2023. Produk-produk ini selama bertahun-tahun menjadi bagian dari lini perangkat hiburan rumah Sony, terutama di pasar Jepang yang masih memiliki basis pengguna media fisik cukup kuat.
Meski demikian, Sony menegaskan bahwa mereka tidak sepenuhnya meninggalkan format Blu-ray. Kebijakan ini hanya berlaku untuk perekam Blu-ray dengan pemutar bawaan. Untuk saat ini, perusahaan masih akan memproduksi pemutar Blu-ray Disc yang berfungsi khusus untuk memutar konten. Selain itu, produksi cakram Blu-ray standar dan pemutar UHD Blu-ray juga tetap berjalan.
Baca Juga
Advertisement
Pengumuman tersebut sekaligus menjadi penutup perjalanan panjang Sony di segmen perekam Blu-ray. Perjalanan itu dimulai pada 2003 ketika perusahaan meluncurkan perekam Blu-ray pertama di dunia—sebuah inovasi yang kala itu dianggap revolusioner karena mampu merekam video beresolusi tinggi dalam media cakram optik.
Namun, lanskap industri hiburan rumah telah berubah drastis dalam satu dekade terakhir. Dominasi layanan streaming membuat kebutuhan akan media fisik terus menurun. Konsumen kini lebih memilih akses instan melalui platform digital dibanding menyimpan koleksi film atau serial dalam bentuk cakram.
Perubahan tren ini juga terlihat dari langkah sejumlah produsen teknologi besar lain. Oppo menghentikan lini produk Blu-ray pada 2018. Setahun kemudian, Samsung menyusul dengan menghentikan produksi pemutar Blu-ray dan UHD Blu-ray. Sementara itu, LG resmi keluar dari pasar pemutar Blu-ray pada 2024.
Baca Juga
Advertisement
Meski banyak pemain besar mundur, pasar Blu-ray belum sepenuhnya mati. Permintaan terhadap film, serial televisi, dan konten hiburan dalam format cakram masih tergolong stabil di kalangan kolektor dan penggemar kualitas gambar tinggi. Beberapa perusahaan masih bertahan di segmen ini, seperti Asus, Pioneer, dan Panasonic yang tetap memproduksi drive atau perangkat terkait. Bahkan produsen media penyimpanan seperti Verbatim masih melanjutkan produksi cakram Blu-ray kosong.
Di sisi lain, arah masa depan divisi home entertainment Sony juga menjadi sorotan. Laporan industri menyebutkan bahwa divisi tersebut berpotensi berada di bawah kendali perusahaan elektronik asal Tiongkok, TCL, dalam waktu dekat. Jika rencana itu terealisasi, kebijakan produk di masa depan bisa saja berubah mengikuti strategi bisnis baru.
Analis industri menilai keputusan Sony menghentikan produksi perekam Blu-ray adalah langkah realistis. Biaya produksi perangkat keras relatif tinggi, sementara volume penjualan terus menurun akibat perubahan perilaku konsumen. Di sisi lain, investasi di sektor layanan digital, perangkat streaming, dan konten berbasis cloud dinilai lebih menjanjikan secara finansial.
Baca Juga
Advertisement
Walau begitu, sebagian pengamat berpendapat bahwa media fisik masih memiliki tempat tersendiri. Blu-ray tetap menawarkan kualitas video dan audio yang lebih stabil dibanding streaming yang bergantung pada koneksi internet. Selain itu, kolektor film dan penggemar sinema kerap memilih format fisik karena dianggap lebih tahan lama dan tidak bergantung lisensi digital.
Pada akhirnya, keputusan Sony mencerminkan fase transisi industri hiburan rumah. Dari era kaset, CD, DVD, hingga Blu-ray, setiap generasi teknologi memiliki masa kejayaannya sendiri sebelum akhirnya tergeser inovasi baru. Kini, giliran streaming dan distribusi digital yang menjadi standar utama konsumsi konten global.
Dengan penghentian produksi perekam Blu-ray, Sony tampaknya memilih beradaptasi daripada bertahan pada pasar yang menyusut. Strategi tersebut mempertegas arah industri elektronik modern: masa depan hiburan rumah bukan lagi tentang perangkat penyimpanan fisik, melainkan akses instan, konektivitas, dan layanan berbasis internet.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.