Kaspersky Ungkap Tips Untuk Orang Tua Cara “Sharenting” Dengan Aman

Kaspersky

Kolaborasi riset mendalam antara Kaspersky dengan Singapore Institute of Technology (SIT) menyoroti cara pandang serta pola perilaku para orang tua yang gemar mendokumentasikan rutinitas pengasuhan anak di ruang siber. Laporan bertajuk “Small Shares, Big Risks: How Parents Assess Threats and Cope with Sharing of Children’s Data” ini secara khusus menjaring data dari 152 partisipan daring yang tersebar di wilayah Asia Pasifik dan Mesir. Melalui studi ini, terungkap adanya kekhawatiran yang meluas di kalangan orang tua mengenai potensi penyalahgunaan berkas digital serta data pribadi buah hati mereka yang telanjur dibagikan ke platform media sosial.

​Faktor utama yang memicu kecemasan para orang tua ketika melakukan praktik pembagian konten pengasuhan atau sharenting adalah ancaman dari orang asing yang tidak dikenal. Riset statistik menunjukkan bahwa sebanyak 75 persen responden meyakini unggahan mereka rentan disalahgunakan oleh pihak lain demi kepentingan yang merugikan. Selain itu, terdapat kekhawatiran spesifik yang cukup tinggi di mana lebih dari 70 persen orang tua merasa cemas bahwa lokasi hunian (74%) maupun institusi pendidikan anak mereka (73%) dapat dengan mudah dilacak oleh publik melalui konten-konten tersebut.

​Mayoritas responden, yakni sekitar 80 persen, menyadari sepenuhnya bahwa penyalahgunaan data keluarga di dunia maya dapat memicu konsekuensi yang fatal. Efek domino dari kecerobohan membagikan titik koordinat atau alamat tinggal yang krusial ditakuti oleh 82 persen orang tua karena berpotensi mengancam keselamatan fisik anak. Di samping masalah keamanan fisik, sebanyak 69 persen orang tua juga mengkhawatirkan implikasi psikologis di masa depan, di mana dokumentasi masa kecil yang memalukan berisiko disalahartikan dan mengganggu reputasi digital anak saat beranjak dewasa.

Advertisement

​Menanggapi fenomena tersebut, Profesor Madya Jiow Hee Jhee selaku perwakilan dari SIT menegaskan bahwa kekhawatiran yang dialami orang tua terhadap potensi eksploitasi oleh pihak asing sangatlah beralasan. Penyimpanan foto tanpa izin serta kompilasi informasi geolokasi merupakan ancaman nyata yang kerap terjadi di luar kontrol pengawasan keluarga. Beliau menambahkan bahwa pengakuan dan munculnya rasa tidak nyaman terhadap aktivitas sharenting sebenarnya menjadi sinyal positif yang menandakan awal mula kesadaran protektif orang tua dalam memfilter informasi secara lebih bijak.

​Kendati sadar akan ancaman privasi yang mengintai, para orang tua dihadapkan pada dilema psikologis internal yang membagi sudut pandang mereka menjadi dua arus utama secara seimbang. Setengah dari total partisipan merasakan adanya ikatan emosional dan rasa solidaritas sesama orang tua ketika saling bertukar cerita pengasuhan di lini masa, sementara sebagian lainnya sama sekali tidak merasakan keterikatan tersebut. Begitu pula dengan pemenuhan ego digital, di mana separuh responden merasa mendapat pasokan energi positif dari respons dan pujian warganet, sedangkan sisanya tetap bersikap acuh atau tidak terpengaruh.

​Hasrat untuk memelihara hubungan jarak jauh dengan kerabat atau kawan lama menjadi stimulus bagi 47 persen orang tua untuk terus memperbarui status mengenai perkembangan buah hati mereka. Namun, fenomena menarik memperlihatkan bahwa meskipun 48 persen dari mereka gemar merayakan pencapaian sang anak di ruang digital, ada sekitar 82 persen orang tua yang memilih untuk tidak mengekspos pencapaian krusial keluarga secara berkala. Hal ini mencerminkan adanya tarik-ulur emosional di mana dorongan untuk mencari validasi sosial kerap berbenturan dengan naluri alamiah untuk melindungi privasi domestik.

Advertisement

​Dari perspektif korporasi keamanan, Trishia Octaviano dari Kaspersky Asia Pasifik mengingatkan risiko terselubung mengenai pembuatan profil digital konsumen (profiling) oleh agensi pemasaran pihak ketiga. Perusahaan periklanan mampu melacak dan memetakan preferensi serta perilaku anak-anak sebagai target pasar masa depan melalui rekam jejak yang diunggah oleh orang tua mereka, terlepas dari fakta bahwa anak tersebut belum memiliki akun pribadi. Oleh sebab itu, pembatasan konten secara ketat dan pengelolaan jejak digital anak semenjak dini menjadi langkah mutakhir yang tidak boleh diabaikan demi meminimalisasi eksploitasi komersial.

​Sebagai solusi praktis, para pakar siber merumuskan sejumlah protokol mitigasi guna memastikan aktivitas digital keluarga tetap berjalan dengan aman tanpa mengorbankan privasi. Langkah fundamental dapat dimulai dengan menghapus akun-akun usang yang tidak terpakai, mengubah setelan profil menjadi privat, serta meninjau ulang daftar pertemanan serta hak akses visibilitas secara berkala. Selain itu, orang tua diimbau keras untuk menghapus metadata foto, menolak berbagi geolokasi waktu nyata (real-time), memantau aktivitas daring anak, serta memanfaatkan perangkat lunak pengendali khusus seperti Kaspersky Safe Kids untuk proteksi menyeluruh. 

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.

Jurnalis teknologi dan gadget sejak 2005. Mulai dari Majalah Digicom, pernah di Tabloid Ponselku, pendiri techno.okezone.com, 5 tahun di Viva.co.id, 2 tahun di Uzone.id. Pernah bikin majalah digital Klik Magazine, sempat di perusahaan VAS Celltick Technologies. Sekarang jadi founder Gadgetdiva.id, bantuin Indotelko.com dan Gizmologi.id. Supermom dengan 2 orang superkids.