Pengakuan Mark Zuckerberg Makin Bikin Yakin Kalau Instagram Dkk Mengerikan Buat Anak

Mark Zuckerberg
Mark Zuckerberg, pemilik Meta yang menaungi Instagram, Whatsapp dan Facebook.

Di sebuah ruang sidang di Los Angeles, suasana hening sejenak ketika Mark Zuckerberg, CEO Meta, duduk di kursi saksi dan mengakui sesuatu yang selama ini dikhawatirkan para orang tua di seluruh dunia. Ia menyatakan bahwa ia menyesal atas lambatnya kemajuan Meta dalam mengidentifikasi pengguna di bawah umur di Instagram, sebuah pengakuan yang sekaligus mengonfirmasi kekhawatiran bahwa platform ini belum cukup aman bagi anak-anak. Pengakuan ini muncul dalam persidangan yang menyoroti dugaan bahwa media sosial berkontribusi terhadap kecanduan dan masalah kesehatan mental pada remaja.

Dengan tenang namun tegang, Mark Zuckerberg menjawab pertanyaan tentang keluhan internal bahwa perusahaan tidak cukup serius memverifikasi usia pengguna di bawah 13 tahun yang menggunakan Instagram. Ia mengakui bahwa sejumlah perbaikan telah dilakukan, namun di hadapan juri ia tak menutupi penyesalannya. Dalam persidangan itu, ia mengatakan bahwa ia “menyesali lambatnya kemajuan perusahaannya dalam mengidentifikasi pengguna di bawah umur di Instagram.” Kalimat pernyataan inilah yang menjadi titik balik narasi tentang bagaimana Meta memandang keselamatan anak.

Persidangan ini bukan perkara kecil; ini adalah ujian terbuka terhadap peran perusahaan teknologi raksasa dalam kehidupan generasi muda. Di tengah gempuran data, dokumen internal, dan kesaksian ahli, pengakuan Mark Zuckerberg menjadi momen simbolis bahwa bahkan sang pendiri pun harus mengakui bahwa sistem yang ia bangun belum cukup tangguh untuk melindungi anak-anak yang seharusnya belum berada di dalamnya.

Advertisement

Mark Zuckerberg
Foto: Engadget

Pengakuan Mark Zuckerberg: “Saya Menyesal Kita Lambat”

Ketika ditanya soal keluhan dari dalam perusahaan bahwa Meta tidak melakukan cukup upaya untuk memverifikasi apakah anak di bawah 13 tahun menggunakan platform tersebut, Mark Zuckerberg tampak berhati-hati, namun tetap jelas. Di hadapan juri, ia mengatakan bahwa perusahaannya telah membuat sejumlah peningkatan, tetapi ia mengakui bahwa semua itu datang terlambat. Ia menyampaikan bahwa ia menyesal atas lambatnya Meta dalam membuat kemajuan dalam mengidentifikasi pengguna di bawah 13 tahun di Instagram.

“Sejumlah perbaikan telah dilakukan. Namun saya selalu berharap kami bisa berada di titik ini lebih cepat lagi,” ujar Mark Zuckerberg, pemilik Meta yang menaungi Instagram, Facebook dan Whatsapp.

Pernyataan kunci yang disorot media dari kesaksian itu adalah pengakuannya bahwa ia “menyesal atas lambatnya kemajuan” dalam mendeteksi pengguna di bawah umur di Instagram. Kalimat ini menggambarkan bahwa Meta menyadari masalah tersebut, namun membutuhkan waktu lama untuk bergerak cepat menanganinya. Bagi para orang tua, penyesalan itu bukan sekadar kalimat; itu adalah pengakuan bahwa selama bertahun-tahun, anak-anak mereka berpotensi terpapar risiko tanpa perlindungan yang memadai.

Advertisement

Menariknya, Mark Zuckerberg juga menyatakan di ruang sidang bahwa mereka kini “berada di posisi yang tepat” dalam hal verifikasi usia dan bahwa alat serta metode baru akan terus ditambahkan seiring waktu. Namun transisi dari penyesalan ke klaim bahwa Meta sekarang sudah di “tempat yang benar” justru membuka pertanyaan penting: jika sekarang saja baru “cukup baik”, berapa banyak anak yang sudah terpapar risiko ketika sistem itu belum siap? Pertanyaan itu menghantui narasi keselamatan anak di platform Meta.

Mengapa Meta Dinilai Tidak Aman untuk Anak-anak

Meta
Meta dan beberapa platform di bawah naungannya.

Alasan pertama mengapa Meta, khususnya Instagram, dinilai tidak aman bagi anak-anak adalah fakta bahwa ada celah besar dalam verifikasi usia. Aturan menyatakan bahwa anak di bawah 13 tahun tidak boleh menggunakan Instagram, tetapi dalam praktiknya, jutaan anak diduga berhasil membuat akun dengan mudah, hanya dengan memasukkan tanggal lahir palsu. Di persidangan, Mark Zuckerberg dihadapkan dengan dokumen internal yang menyebut bahwa pada 2015 Instagram diperkirakan memiliki jutaan pengguna di bawah 13 tahun, dan sebagian besar anak usia 10–12 tahun di Amerika Serikat sudah menggunakan platform tersebut.

Kedua, ada kekhawatiran serius bahwa fitur-fitur Instagram justru mendorong penggunaan berlebihan dan berpotensi adiktif bagi remaja. Algoritma yang dirancang untuk mempertahankan perhatian, notifikasi yang terus berdatangan, serta fitur seperti endless scrolling dapat menjerat pengguna muda dalam pola penggunaan yang tidak sehat. Dalam kasus yang dibahas di persidangan, seorang remaja digambarkan bisa menghabiskan waktu berjam-jam di Instagram, bahkan hingga lebih dari 16 jam dalam sehari, dan kemudian mengalami kecemasan, dismorfia tubuh, hingga pikiran untuk bunuh diri.

Advertisement

Ketiga, Meta dituduh tidak cukup cepat menanggapi bukti internal tentang risiko terhadap kesehatan mental anak dan remaja. Meski perusahaan menunjukkan adanya alat keselamatan seperti kontrol orang tua dan pengaturan khusus akun remaja, para penggugat berpendapat bahwa langkah-langkah itu datang terlambat dan tidak cukup kuat. Di titik ini, pengakuan Mark Zuckerberg bahwa ia menyesal atas lambatnya kemajuan perusahaan dalam mengidentifikasi pengguna di bawah umur terasa seperti validasi atas kekhawatiran lama para orang tua dan pemerhati isu anak.

Dampak Nyata di Balik Layar: Cerita Anak-anak yang Terluka

Di balik statistik dan perdebatan hukum, ada kisah-kisah nyata anak dan remaja yang tergelincir dalam sisi gelap media sosial. Dalam persidangan tersebut, salah satu contoh yang diangkat adalah seorang gadis yang mulai menggunakan YouTube di usia enam tahun, kemudian Instagram di usia sembilan, sebelum akhirnya beralih juga ke TikTok dan Snapchat. Ia bukan sekadar pengguna biasa; ia menjadi cerminan generasi yang tumbuh besar dengan layar di genggaman tangan.

Menurut pengacara yang mewakilinya, gadis ini bisa menghabiskan beberapa jam sehari di Instagram, bahkan pada satu titik sampai lebih dari 16 jam dalam sehari, meskipun ibunya berusaha keras membatasi pemakaian. Dari waktu ke waktu, ia mengaku mengalami kecemasan, dismorfia tubuh, hingga pemikiran untuk bunuh diri, selain mengalami perundungan dan eksploitasi seksual di platform tersebut. Kisah seperti ini menjadi dasar argumen bahwa desain platform dan cara algoritma bekerja tidak netral bagi kesehatan mental anak.

Advertisement

Kisah itu mungkin terdengar ekstrem, tetapi justru karena itu pengadilan ini disebut sebagai persidangan bersejarah tentang kecanduan media sosial dan dampaknya pada anak. Pengakuan Mark Zuckerberg bahwa perusahaannya terlambat mengembangkan sistem untuk mengidentifikasi pengguna di bawah umur seolah menambahkan lapisan baru pada cerita itu: bukan hanya anak-anak rentan terhadap fitur yang adiktif, tetapi sistem perlindungan usia pun berjalan tertatih-tatih. Dalam konteks ini, sulit untuk mengatakan bahwa Meta benar-benar aman bagi anak-anak.

Meta Klaim Sudah Lebih Baik, Apakah Cukup?

Di hadapan juri, Mark Zuckerberg mencoba menyeimbangkan penyesalan dengan keyakinan bahwa Meta kini telah membuat banyak perbaikan. Ia menegaskan bahwa perusahaan telah menambahkan alat dan metode baru untuk verifikasi usia dan bahwa mereka sekarang berada di “posisi yang tepat” dalam menangani masalah ini. Meta juga menyoroti fitur keselamatan seperti kontrol orang tua dan pengaturan default yang lebih ketat untuk akun remaja, termasuk pembatasan konten tertentu serta privasi yang lebih kuat.

Namun, bagi orang tua dan pengamat, pertanyaannya bukan hanya apakah Meta sudah lebih baik sekarang, tetapi apakah peningkatan tersebut cukup untuk mengejar ketertinggalan bertahun-tahun. Gugatan yang sedang berjalan menuduh bahwa Meta secara sengaja merancang platform yang membuat anak-anak kecanduan dan tidak bertindak cukup cepat meskipun mengetahui risikonya. Di sinilah pengakuan penyesalan Mark Zuckerberg menjadi penting, karena membuka ruang bagi kritik yang lebih tajam terhadap tanggung jawab perusahaan.

Advertisement

Pada akhirnya, pengakuan bahwa Meta terlambat melindungi anak-anak tidak otomatis menghapus risiko yang masih ada. Orang tua tetap perlu proaktif, mengawasi aktivitas digital anak, mengajarkan literasi digital, serta berani menetapkan batasan yang jelas. Sementara itu, regulator dan pengadilan terus menekan, memastikan bahwa raksasa teknologi seperti Meta tidak hanya menyesal di ruang sidang, tetapi juga berubah nyata di dalam produk yang digunakan jutaan anak setiap hari.

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.

Jurnalis teknologi dan gadget sejak 2005. Mulai dari Majalah Digicom, pernah di Tabloid Ponselku, pendiri techno.okezone.com, 5 tahun di Viva.co.id, 2 tahun di Uzone.id. Pernah bikin majalah digital Klik Magazine, sempat di perusahaan VAS Celltick Technologies. Sekarang jadi founder Gadgetdiva.id, bantuin Indotelko.com dan Gizmologi.id. Supermom dengan 2 orang superkids.