KPAI Minta Komdigi Lakukan Investigasi Soal Dampak Negatif Gim Online pada Anak

Roblox

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendesak Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk melakukan investigasi terkait dampak gim online pada anak. Hal ini berlaku untuk seluruh gim online, bukan hanya Roblox. 

“Kementerian Komdigi harus melakukan investigassi dan mencari fakta tentang anak yang menjadi korban dampak negatif gim online baik secara kuantitas maupun stadiumnya. Sekali lagi bukan hanya Roblox, tetapi juga gim yang lainnya,” ungkap Komisioner KPAI Pengambu Subklaster Anak Korban Pornografi dan Cyber Kawiyan dikutip dari Kompas, Rabu (13/8). 

Menurut Kawiyan, investigasi ini perlu dilakukan karena KPAI telah memperkirakan jumlah korban akan bertambah dari data yang saat ini tercatat di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen). Dampak negatif yang dikhawatirkan meliputi penipuan, eksploitasi, perundungan siber hingga mengajarkan kekerasan. 

Advertisement

KPAI melihat hal ini dapat terjadi karena penyelenggara sistem elektronik (PSE) tidak tegas dalam mengoperasikan layanannya. 

“Kelalaian pihak PSE dalam mengoperasikan sistem elektronik membuat anak-anak menjadi lebih rentan menjadi korban,” imbuh Kawiyan. 

Lebih lanjut, KPAI turut mendorong pemerintah untuk memperkuat pengawasan sesuai ketentuan peraturan dan undang-undang yang berlaku. Termasuk memblokir permainan yang melanggar aturan. 

Advertisement

Langkah tersebut sesuai dengan Undang-Undang No. 1 Tahun 2024 tentang ITE. Hal ini juga diatur dalam Peraturan Pemerintah Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas). 

“Secara normatif regulasi-regulasi yang mengatur perlindungan anak di ranah digital sudah cukup baik. Tinggal bagaimana pemerintah melakukan pengawasan atas pelaksanaan regulasi tersebut,” pungkasnya. 

Pekan lalu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti melarang anak-anak untuk bermain Roblox. Sebab, permainan tersebut mengandung adegan kekerasan dan dialog kasar. 

Advertisement

Menurutnya, anak-anak di tingkat SD belum sepenuhnya mampu membedakan mana adegan nyata dan rekayasa. Di samping, mereka adalah peniru yang handal sehingga dapat menirukan berbagai tindakan yang dilihat ketika memainkan gim daring maupun menonton konten. 

“Kalau main HP tidak boleh menonton kekerasan, yang di situ ada berantemnya, di situ ada kata-kata yang jelek-jelek, jangan nonton yang tidak berguna ya. Nah, yang main blok-blok (Roblox) tadi itu jangan main yang itu ya karena itu tidak baik ya,” ungkapnya dikutip dari Antara, Senin (4/8).

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.