YouTube Rilis Fitur Perlindungan Anak Berbasis AI, Dukung PP Tunas dan Perkuat Kontrol Orang Tua

Komdigi

Platform video milik YouTube kembali menegaskan komitmennya dalam menciptakan ruang digital yang aman bagi anak dan remaja. Langkah ini sejalan dengan implementasi kebijakan pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau yang dikenal sebagai PP Tunas.

Dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, YouTube Indonesia menyampaikan bahwa pendekatan yang diambil tidak berfokus pada pembatasan total, melainkan pada penguatan sistem perlindungan yang terintegrasi. Dengan kata lain, platform ini memilih untuk menghadirkan pengalaman digital yang lebih ramah usia dibandingkan sekadar melarang akses bagi pengguna muda.

“Pendekatan ini memberikan insentif untuk terciptanya fitur perlindungan terintegrasi serta pengalaman digital yang sesuai dengan usia,” demikian pernyataan resmi YouTube Indonesia.

Advertisement

Seiring dengan itu, YouTube telah menghadirkan berbagai fitur yang menempatkan orang tua sebagai pengendali utama dalam aktivitas digital anak. Salah satu fitur yang cukup menonjol adalah pengaturan durasi tayangan pada YouTube Shorts. Melalui fitur ini, orang tua dapat membatasi waktu menonton anak, bahkan hingga nol menit jika diperlukan. Hal ini menjadi solusi bagi kekhawatiran akan konsumsi konten berlebihan di kalangan anak-anak.

Selain pengaturan durasi, YouTube juga memperkenalkan teknologi verifikasi usia berbasis kecerdasan buatan atau AI. Teknologi ini dirancang untuk mengidentifikasi usia pengguna secara lebih akurat sehingga konten yang ditampilkan dapat disesuaikan dengan kelompok usia masing-masing. Menariknya, sistem inferensi usia ini dijadwalkan akan diluncurkan sebelum batas waktu penerapan penuh PP Tunas pada Maret 2027.

Tidak hanya itu, fitur kontrol orang tua juga diperkuat melalui integrasi dengan aplikasi Google Family Link. Melalui aplikasi ini, orang tua dapat mengatur jadwal penggunaan perangkat, mengunci layar dari jarak jauh, hingga memberikan pengingat waktu istirahat dan tidur. Bahkan, aktivitas aplikasi anak juga dapat dipantau secara menyeluruh, memberikan transparansi yang lebih baik bagi orang tua.

Advertisement

Di sisi lain, YouTube turut melengkapi platformnya dengan fitur perlindungan bawaan. Misalnya, pengguna akan mendapatkan pengingat untuk beristirahat setelah menonton dalam durasi tertentu. Selain itu, notifikasi akan dibatasi mulai pukul 22.00 guna mencegah gangguan waktu istirahat. Khusus untuk pengguna di bawah usia 18 tahun, fitur putar otomatis atau autoplay juga dinonaktifkan secara default.

Namun demikian, YouTube menilai bahwa pembatasan akses secara menyeluruh bagi pengguna di bawah usia 16 tahun bukanlah solusi yang ideal. Pasalnya, kebijakan tersebut justru berpotensi membuat anak-anak kehilangan akses terhadap berbagai fitur keamanan yang telah disediakan, termasuk kontrol orang tua dan sistem pengawasan akun.

Oleh karena itu, YouTube menekankan pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif. Perlindungan anak di ruang digital tidak hanya bergantung pada pembatasan akses, tetapi juga memerlukan penguatan literasi digital serta perhatian terhadap kesejahteraan mental pengguna muda.

Advertisement

Sebagai bagian dari upaya tersebut, YouTube Indonesia telah menjalankan sejumlah inisiatif edukatif. Salah satunya adalah pelatihan bagi sekitar 2.500 guru bimbingan konseling yang dilakukan bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Program ini bertujuan untuk membantu para pendidik menghadapi tantangan seperti kecanduan ponsel pintar serta mendukung kesehatan mental remaja.

Lebih lanjut, YouTube juga menggandeng berbagai institusi dalam menyusun panduan kesejahteraan digital. Kolaborasi ini melibatkan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, serta Universitas Indonesia. Melalui kerja sama ini, diharapkan tercipta panduan yang komprehensif untuk mendukung kesehatan mental pengguna di era digital.

Tak berhenti di situ, YouTube juga menghadirkan program Youth Champions. Program ini dirancang untuk melatih para advokat muda agar mampu memimpin diskusi mengenai keamanan digital di kalangan sebaya. Dengan pendekatan peer-to-peer, program ini diharapkan dapat membangun kesadaran kolektif sekaligus memperkuat ketahanan digital generasi muda.

Advertisement

Ke depan, YouTube Indonesia mendorong pemerintah untuk terus melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan yang adaptif dan berbasis risiko. Pendekatan kolaboratif dinilai penting untuk memastikan bahwa regulasi yang dihasilkan tetap relevan dengan perkembangan teknologi yang dinamis.

Sebagai penutup, YouTube juga menyatakan kesiapannya untuk berpartisipasi aktif dalam implementasi PP Tunas. Salah satunya melalui mekanisme penilaian mandiri yang bertujuan memastikan standar perlindungan dan keamanan digital bagi anak tetap terjaga secara optimal.

Dengan berbagai langkah ini, YouTube berharap dapat menciptakan ekosistem digital yang tidak hanya aman, tetapi juga mendukung tumbuh kembang anak dan remaja secara sehat di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.