Huawei Bidik Produksi Chip 1,4nm pada 2031, Siap Tantang Dominasi TSMC dan Samsung

Huawei

Huawei kembali menunjukkan ambisinya di industri teknologi global. Perusahaan asal China tersebut mengklaim bakal mampu memproduksi chip semikonduktor canggih secara mandiri pada tahun 2031. Langkah ini dinilai sebagai upaya besar Huawei untuk mengejar ketertinggalannya dari para raksasa industri chip seperti TSMC dan Samsung.

Pernyataan tersebut disampaikan Huawei dalam sebuah simposium teknologi yang digelar di Shanghai. Dalam kesempatan itu, perusahaan mengungkapkan keyakinannya untuk menghadirkan chip dengan kepadatan transistor setara proses fabrikasi 1,4 nanometer (nm), teknologi yang diperkirakan akan digunakan oleh para kompetitornya dalam beberapa tahun ke depan.

Jika target tersebut berhasil dicapai, maka Huawei berpotensi mencetak tonggak penting dalam sejarah industri semikonduktor China. Pasalnya, sejak tahun 2019 perusahaan itu harus menghadapi berbagai sanksi perdagangan dari Amerika Serikat yang membatasi akses mereka terhadap teknologi dan peralatan produksi chip modern.

Advertisement

Akibat pembatasan tersebut, Huawei sempat mengalami penurunan daya saing di sektor perangkat pintar dan teknologi jaringan. Selain itu, akses terhadap mesin litografi canggih yang dibutuhkan untuk memproduksi chip berukuran kecil juga menjadi sangat terbatas.

Meski begitu, Huawei tampaknya tidak menyerah. Perusahaan justru semakin agresif mengembangkan teknologi internal agar bisa lebih mandiri dalam rantai pasok semikonduktor.

Dalam laporan yang dikutip dari Engadget pada Senin (25/5), Huawei percaya bahwa teknologi chip 1,4nm bisa mereka capai dalam beberapa tahun mendatang. Teknologi ini disebut-sebut bakal menjadi standar baru industri karena mampu menghadirkan performa lebih tinggi dengan efisiensi daya yang lebih baik.

Advertisement

Sebagai perbandingan, saat ini produsen chip terbesar di dunia seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing Company atau TSMC bahkan baru menargetkan produksi massal chip 1,4nm pada tahun 2028. Artinya, Huawei diperkirakan masih tertinggal sekitar lima tahun dari perusahaan-perusahaan papan atas dunia.

Walau demikian, Huawei melihat peluang lain yang bisa menjadi kekuatan utama mereka, yakni harga produksi yang lebih terjangkau. Strategi ini diyakini dapat menarik banyak perusahaan yang membutuhkan chip canggih dengan biaya lebih rendah.

Kepala Departemen Chip Huawei, He Tingbo, mengatakan bahwa perusahaan ingin menghadirkan solusi semikonduktor yang layak sekaligus ekonomis. Menurutnya, pendekatan tersebut bisa menjadi pembeda Huawei dibanding kompetitor lain yang fokus pada teknologi premium dengan biaya tinggi.

Advertisement

Pernyataan itu juga menunjukkan bahwa Huawei tidak hanya ingin mengejar kecanggihan teknologi, tetapi juga membangun ekosistem semikonduktor yang lebih mudah diakses oleh pasar luas.

Saat ini, industri semikonduktor global memang tengah memasuki persaingan yang semakin ketat. Negara-negara besar berlomba mengembangkan teknologi chip terbaru karena komponen tersebut menjadi fondasi utama berbagai perangkat modern, mulai dari smartphone, kecerdasan buatan, kendaraan listrik, hingga pusat data.

China sendiri terus berusaha memperkuat industri chip domestik demi mengurangi ketergantungan pada teknologi asing. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah China diketahui memberikan dukungan besar kepada perusahaan lokal untuk mempercepat pengembangan semikonduktor.

Advertisement

Salah satu perusahaan yang turut berperan penting adalah Semiconductor Manufacturing International Corp atau SMIC. Saat ini, SMIC disebut mampu memproduksi chip dengan teknologi 7nm yang digunakan pada ponsel Huawei Mate 60.

Kehadiran Huawei Mate 60 sebelumnya sempat mengejutkan banyak pihak. Smartphone tersebut dinilai menjadi bukti bahwa China masih mampu mengembangkan chip canggih meski berada di tengah tekanan sanksi Amerika Serikat.

Banyak analis menilai keberhasilan Huawei mempertahankan pengembangan chip menjadi sinyal bahwa industri teknologi China mulai menemukan jalur alternatif untuk menghadapi pembatasan global.

Advertisement

Di sisi lain, perjalanan Huawei menuju teknologi 1,4nm tentu tidak akan mudah. Produksi chip dengan ukuran transistor yang sangat kecil membutuhkan investasi besar, riset jangka panjang, serta dukungan perangkat manufaktur yang sangat kompleks.

Selain itu, industri chip modern juga sangat bergantung pada rantai pasok global. Oleh karena itu, tantangan geopolitik diperkirakan masih akan menjadi hambatan utama bagi Huawei dalam mewujudkan ambisi tersebut.

Meski begitu, optimisme Huawei menunjukkan bahwa persaingan industri semikonduktor global kemungkinan bakal semakin menarik dalam beberapa tahun ke depan. Jika perusahaan itu benar-benar mampu mencapai targetnya pada 2031, maka peta persaingan chip dunia bisa berubah cukup signifikan.

Advertisement

Bukan hanya menjadi simbol kebangkitan Huawei, keberhasilan tersebut juga dapat memperkuat posisi China sebagai salah satu kekuatan utama dalam industri teknologi masa depan.

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.