Gelaran akbar Worldwide Developers Conference (WWDC) 2026 sudah di depan mata. Ajang tahunan yang paling dinanti ini siap menjadi panggung bagi Apple untuk memamerkan amunisi perangkat lunak teranyarnya, mulai dari iOS, iPadOS, macOS, tvOS, watchOS, hingga visionOS, disertai beberapa kejutan menarik lainnya.
Seiring berjalannya waktu, pusat perhatian publik tentu saja akan tertuju pada sistem operasi ponsel pintar mereka, yakni iOS 27. Hal ini sangat wajar mengingat ada lebih dari satu miliar perangkat iPhone yang aktif digunakan di seluruh penjuru dunia setiap harinya. Selain itu, desas-desus mengenai pembaruan besar-besaran pada asisten virtual Siri berbasis kecerdasan buatan (AI) kian santer terdengar belakangan ini. Kendati demikian, penyegaran teknologi AI rasanya belum cukup memuaskan. Faktanya, masih banyak aspek penting lain dalam sistem operasi mobile ini yang sudah sangat mendesak untuk segera dibenahi oleh Apple.
Sebagai seorang pengguna yang aktif mengoperasikan iOS sekaligus Android, saya melihat bahwa raksasa teknologi asal Cupertino ini perlu memetik beberapa pelajaran berharga dari Google. Walaupun mungkin sudah terlambat untuk memberikan masukan langsung yang memengaruhi keputusan final Apple saat ini, namun setidaknya kelima poin krusial berikut merupakan aspek utama yang paling saya incar dalam sesi presentasi iOS 27 di panggung WWDC 2026 nanti.
Baca Juga
Advertisement
1. Pembenahan Total pada Keyboard iOS
Harus diakui, Apple sebenarnya telah menggelontorkan sejumlah perbaikan untuk papan ketik (keyboard) bawaan iOS dalam beberapa bulan terakhir. Namun sayangnya, performa yang disuguhkan masih jauh dari kata ideal. Fenomena ini tentu sangat disayangkan, mengingat keyboard merupakan alat utama yang paling sering kita sentuh dan gunakan setiap hari di iPhone—kecuali jika Anda adalah tipe orang yang mengandalkan fitur dikte suara untuk segala aktivitas.
Melihat rekam jejak iPhone yang telah mengudara selama hampir dua dekade, kendala klasik seperti salah ketik (typo) dan kegagalan fitur koreksi otomatis (autocorrect) yang membagongkan seharusnya tidak perlu terjadi lagi sesering sekarang. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pada akhirnya banyak pengguna yang memilih untuk bermigrasi dan memasang aplikasi keyboard pihak ketiga.
Jika Anda pernah mencoba alternatif lain seperti Gboard milik Google, Anda pasti langsung menyadari bahwa keyboard bawaan Apple benar-benar membutuhkan sentuhan penyegaran visual maupun fungsional. Meski tidak bisa dibilang sebagai sebuah kegagalan total, keyboard iOS yang ada saat ini perlahan tapi pasti mulai merusak kenyamanan premium dari pengalaman menggunakan iPhone.
Baca Juga
Advertisement
2. Kebebasan Kustomisasi Efek “Liquid Glass”
Selanjutnya, mari kita bicarakan visualisasi antarmuka. Kehadiran gaya desain “Liquid Glass” kini telah menjadi realitas baru yang harus diterima oleh seluruh pengguna setia Apple. Meskipun demikian, alangkah baiknya jika Apple memberikan sedikit ruang kendali ekstra kepada para penggunanya untuk mengatur berbagai efek transparan serta animasi dinamis yang kini mendominasi seluruh tampilan layar.
Langkah Apple yang sempat meluncurkan beberapa penyesuaian minor pada Liquid Glass baru-baru ini sebenarnya menjadi pengakuan secara tidak langsung bahwa mereka mungkin melangkah terlalu jauh saat pertama kali merombak estetika visual tersebut. Maka dari itu, ruang improvisasi masih terbuka sangat lebar.
Biarkan para pencinta Liquid Glass menikmati tampilan tersebut apa adanya, tetapi berikan juga hak bagi pengguna lain untuk mengontrol penuh kombinasi warna serta latar belakang pada ponsel mereka sendiri. Bagaimanapun juga, aspek kustomisasi antarmuka ini merupakan satu dari sedikit area di mana iOS masih tertinggal cukup jauh di belakang kedigdayaan Android.
Baca Juga
Advertisement
3. Fitur Riwayat Versi di Apple Notes
Biasanya, bersamaan dengan peluncuran pembaruan sistem operasi secara global, Apple juga kerap memperbarui jajaran aplikasi bawaan mereka. Oleh sebab itu, kita patut mengharapkan adanya pengumuman segar mengenai aplikasi-aplikasi native ini di panggung WWDC—termasuk, yang paling saya harapkan, adalah pembaruan pada Apple Notes.
Sejauh ini, Notes telah menjelma menjadi salah satu aplikasi andalan yang sangat diandalkan oleh hampir setiap pemilik iPhone untuk mencatat berbagai hal penting, tidak terkecuali saya. Namun, predikat tersebut bukan berarti membuat aplikasi ini lepas dari kekurangan. Salah satu fitur vital yang saat ini absen adalah ketiadaan sistem riwayat versi (version history) yang mumpuni untuk memulihkan editan terdahulu atau melihat draf catatan yang lama.
Kehadiran fitur ini tentu akan sangat membantu dalam berbagai situasi, mulai dari membatalkan kesalahan ketik yang tidak sengaja, mengembalikan data yang terhapus, hingga memantau perkembangan ide saat melakukan brainstorming. Menariknya, fitur krusial semacam ini sudah lama diimplementasikan dengan sangat baik oleh Google melalui aplikasi Google Keep.
Baca Juga
Advertisement
4. Detail Informasi Tempat yang Lebih Kaya di Apple Maps
Di sisi lain, perkembangan Apple Maps dalam beberapa tahun terakhir memang patut diacungi jempol. Tampilannya kini terlihat sangat memukau, navigasinya berfungsi dengan akurat, serta panduan arahnya terbilang komprehensif. Kendati demikian, ruang untuk berkembang masih terbuka lebar, dan yang saya maksud di sini bukanlah dengan menjejali aplikasi tersebut menggunakan iklan komersial.
Hingga detik ini, salah satu alasan utama mengapa saya masih sering beralih membuka Google Maps dibandingkan Apple Maps adalah karena Google mampu menyajikan informasi yang jauh lebih kaya mengenai sebuah lokasi. Aplikasi milik Google tersebut dapat mendeteksi jam-jam sibuk, menginformasikan seberapa padat suatu tempat secara real-time, hingga merinci fasilitas penting seperti opsi layanan pesan antar (delivery).
Sebaliknya, rincian data yang disajikan oleh Apple Maps cenderung sangat minim dan statis, bahkan mereka masih mengandalkan sistem ulasan pihak ketiga dari Tripadvisor. Jika Anda ingin mengetahui seluk-beluk suatu lokasi secara mendalam, Google Maps jelas keluar sebagai pemenangnya, dan inilah pekerjaan rumah besar yang wajib segera diselesaikan oleh Apple.
Baca Juga
Advertisement
5. Optimalisasi Wadah “App Library”
Terakhir, saya sempat merasa sangat gembira ketika Apple pertama kali memperkenalkan fitur App Library pada pembaruan iOS 14 silam. Pasalnya, kehadiran fitur tersebut membuat layar utama (home screen) iPhone menjadi jauh lebih rapi dan bebas dari tumpukan ikon aplikasi yang berserakan, karena seluruh aplikasi yang terpasang otomatis terorganisasi dengan baik di dalam App Library.
Namun, kegembiraan tersebut seketika berubah menjadi rasa bingung dan frustrasi ketika saya mengetahui bahwa sistem App Library mengelompokkan folder aplikasi secara sepihak tanpa memberikan opsi bagi pengguna untuk mengubah atau mengeditnya. Alhasil, sering kali saya terpaksa menatap layar App Library dengan tatapan kosong, hanya demi menebak-nebak di kelompok folder mana aplikasi yang baru saja saya unduh disembunyikan oleh sistem.
Memang benar kita bisa membuat folder kustom sendiri di layar utama, namun hal tersebut justru merusak esensi dasar dari diciptakannya App Library itu sendiri. Sudah saatnya bagi Apple untuk menyuntikkan alat penyuntingan (editing tools) di area ini, dan rasanya hal tersebut bukanlah sebuah tantangan rekayasa perangkat lunak yang terlalu rumit bagi perusahaan sebesar Apple.
Baca Juga
Advertisement
Secara keseluruhan, pembaruan teknologi kecerdasan buatan lewat Siri memicu antusiasme yang tinggi. Namun, Apple tidak boleh menutup mata terhadap aspek fungsionalitas mendasar yang langsung menyentuh kenyamanan operasional sehari-hari para penggunanya. Melalui momentum iOS 27 di WWDC 2026, Apple memiliki peluang emas untuk membuktikan bahwa mereka tidak hanya fokus pada tren AI, melainkan tetap mendengarkan keluhan nyata dari miliaran penggunanya demi menghadirkan pengalaman digital yang sempurna dan tanpa celah.
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.