Jaringan 6G diperkirakan akan mulai diluncurkan sekitar tahun 2030. Beberapa negara global di kawasan APAC seperti China, Jepang dan Korea Selatan dinyatakan telah siap untuk meluncurkan spektrum tersebut.
Director Spectrum Policy & Regulatory Affairs (APAC) GSMA Yishen Chan menyatakan bahwa pihaknya memperkirakan jaringan 5G akan mulai diluncurkan sekitar periode 2030. Penerapannya di masing-masing negara akan berbeda.
Namun, di Indonesia kemungkinan akan akan memakan waktu sedikit lebih lama. Adapun beberapa negara yang dinilai telah siap meluncurkan spektrum 6G di tahun 2030 seperti China, Jepang dan Korea Selatan.
Baca Juga
Advertisement
“Kami memperkirakan jaringan 6G akan mulai diluncurkan sekitar periode 2030. Setiap negara akan berbeda; di Indonesia mungkin akan memakan waktu sedikit lebih lama,” ungkap Yishen Chan dalam forum diskusi bertajuk “Nilai Strategis Nasional TIK dari Alokasi Spektrum Upper 6GHz untuk Mobile Broadband
5G-Advanced dan 6G di Indonesia” di Jakarta, Kamis (9/7).
Beberapa negara lainnya seperti India, China, Vietnam dan negara-negara di Eropa dilaporkan mulai merencanakan spektrum 6Hz untuk IMT (seluler). Chan memperkirakan jaringan ini akan menjadi teknologi arus utama pada paruh kedua dekade berikutnya.
Baca Juga
Advertisement
Oleh sebab itu, pihaknya mendorong pemerintah dan regulator untuk merencanakan spektrum 6 GHz. Guna mendukung evolusi jaringan seluler.
Lantas, pertanyaan selanjutnya adalah apakah Indonesia siap menyambut jaringan 6G tersebut? Negara ini membutuhkan banyak persiapan.
Hal ini terlihat dari kualitas jaringan seluler 5G di Indonesia yang dinilai masih pada tahap relatif awal. Jika dibandingkan dengan performa di negara-negara tetangga lainnya, jaringan di Indonesia belum setara.
Baca Juga
Advertisement
“Jika kita membandingkan performa 5G di Indonesia dengan negara-negara tetangga di kawasan regional atau kawasan lainnya, performa 5G di Indonesia menurut saya belum setara dengan apa yang kita lihat di kawasan APAC,” ujarnya.
Chan mengungkap sejumlah alasan di balik tertinggalnya performa jaringan 5G di Indonesia. Pertama, jumlah spektrum yang dialokasikan dan ditugaskan untuk operator seluler di Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya.
Di saat yang sama, pengguna seluler di Indoensia merupakan salah satu yang tertinggi di kawasan ini. Penggunaan data bulanan per koneksi di Indonesia sebenarnya lebih tinggi daripada di sebagian besar negara di Asia Tenggara.
Baca Juga
Advertisement
Bahkan, hampir menyamai beberapa di antaranya dan umumnya lebih tinggi daripada rata-rata negara di Asia. Sementara itu, Indonesia hanya memiliki spektrum terbatas.
“Jadi, meskipun kecepatan unduh 5G di Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan mayoritas pasar Asia lainnya, jumlah spektrum yang minim dan tingginya penggunaan data adalah faktor kuncinya,” lanjutnya.
Hingga kuartal pertama tahun ini, Indonesia memiliki sekitar 450 MHz spektrum yang ditugaskan untuk operator seluler di pita rendah dan menengah. Oleh sebab itu, perlu adanya lelang untuk menambah lebih banyak spektrum.
Baca Juga
Advertisement
“Dengan adanya tambahan pita 700 MHz dan 2,6 GHz, Indonesia mungkin akan meningkatkan jumlah spektrum menjadi sekitar 700 MHz, sehingga Anda akan melihat Indonesia berada di peringkat menengah di Asia. Namun, Anda masih harus melakukan lebih banyak upaya untuk menetapkan lebih banyak spektrum, terutama di pita menengah (mid-band),” imbuh Chen.
Chan menyatakan bahwa beberapa negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, India dan Vietnam telah menetapkan peta jalan untuk meluncurkan jaringan 6G mulai tahun 2030. Alasan utamanya adalah lonjakan kebutuhan data di masa depan.
Diperkirakan pada tahun 2040, dunia akan memiliki lebih dari 5 miliar koneksi 6G. Untuk mencapai target tersebut, mereka mulai mengamankan bahan bakar utama — spektrum 6 GHz.
Baca Juga
Advertisement
Untuk jaringan 6G, diperlukan bandwidth sekitar 200-400 MHz per jaringan. Setiap generasi seluler selalu membutuhkan bandwidth 4 hingga 5 kali lebih besar dari generasi sebelumnya. Uji coba telah menunjukkan bahwa penggunaan pita 6 Hz dengan lebar pita 400 MHz memberikan hasil optimal untuk throughput tinggi.
Ia turut membeberkan rencana yang telah dibuat oleh beberapa negara lainnya dalam mempersiapkan jaringan 6G. Misalnya, di India, pemerintah setempat telah memasukkan spektrum 6 GHz dalam rencana 10 tahun hingga 2035 dan mengidentifikasi rentang 6,425-7,125 GHz khusus untuk layanan 6G.
Sedangkan, di China, kementerian terkait telah menyetujui penggunaan pita 6 G Hz sebagai spektrum uji coba untuk mempercepat pengembangan teknologi 6G di dalam negeri.
Baca Juga
Advertisement
Lain halnya dengan negara Eropa yang telah mengambil langkah strategis dengan menetapkan spektrum 540 MHz pada pita 6 GHz sebagai prioritas utama untuk penggunaan seluler.
Sementara, Vietnam secara resmi telah menetapkan rentang 6,425 GHz-7,125GHz untuk IMT (seluler). Mereka menegaskan pentingnya perencanaan spektrum sejak dini demi layanan 6G di masa depan.
Uni Emirat Arab (UEA) menugaskan seluruh pita 6 GHz bagian atas kepada operator seluler mereka dan telah mengumumkan rencana peluncuran komersial dalam waktu dekat.
Baca Juga
Advertisement
Negara-negara ini juga telah menyadari bahwa untuk mendukung teknologi masa depan seperti komunikasi hologram, digital twins (kembaran digital) waktu nyata dan pembedahan jarak jauh membutuhkan channel yang sangat lebar. Yakni, 200 hingga 400 MHz.
Pita 6 GHz dinilai sebagai kunci untuk menyediakan kapasitas skala kota pada jaringan yang sudah ada. Jika Indonesia tidak segera mengikuti langkah ini, maka akan berisiko tertinggal dalam ekosistem teknologi global yang sedang bertransformasi dengan cepat.
Data di Jakarta menunjukkan bahwa penggunaan Wi-Fi 6 dan 7 masih sangat rendah. Sebagian ebsar, penggunaan Wi-Fi saat ini masih di pitas 2,4 GHz dan 5 GHz yang sudah sangat luas.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.