Lanskap digital Indonesia saat ini sedang berada dalam bayang-bayang ancaman serius. Berdasarkan data terbaru dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) sepanjang tahun 2025, tercatat ada lebih dari 5,16 billion anomali trafik di ruang siber nasional. Angka yang fantastis ini menjadi alarm keras bagi para pimpinan organisasi bahwa sistem pertahanan digital tidak lagi bisa dianggap remeh. Oleh karena itu, kemampuan untuk merespons insiden secara cepat kini memiliki porsi kepentingan yang sama besar dengan upaya pencegahan itu sendiri.
Guna menjawab tantangan tersebut, PT ITSEC Asia Tbk (IDX: CYBR) mengambil langkah strategis yang konkret. Berkolaborasi dengan Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI), perusahaan penyedia solusi siber berbasis AI ini resmi menggelar Roadshow Gerakan Nasional Ketahanan Siber (GNKS). Kali ini, Kota Makassar dipilih menjadi titik krusial pen canangan gerakan untuk wilayah Indonesia Timur pada Kamis, 25 Juni 2026.
Melalui acara yang diselenggarakan di Hotel Novotel Makassar Grand Shayla ini, para pemangku kebijakan, praktisi, dan pemimpin industri berkumpul. Mereka tidak hanya datang untuk mendengar teori, melainkan terlibat langsung dalam agenda Executive Tabletop Exercise. Program simulasi intensif ini sengaja dirancang agar para pengambil keputusan dapat memahami dinamika penanganan krisis siber secara nyata. Sebagai informasi, Makassar merupakan kota kedua dalam rangkaian GNKS 2026 setelah sebelumnya sukses dilaksanakan di Banten pada akhir April lalu.
Baca Juga
Advertisement
Bukan Seminar Biasa: Simulasi Lima Tahap
Berbeda dengan seminar konvensional yang cenderung membosankan, format acara GNKS dikemas secara interaktif. Pada sesi utama, seluruh peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja untuk melewati lima tahapan simulasi krisis yang dinamis.
- Pertama, peserta diajak untuk memahami peta dan konteks ancaman yang sedang terjadi.
- Kedua, mereka ditantang menyusun strategi mitigasi yang efektif.
- Ketiga, kelompok harus mengeksekusi keputusan di tengah simulasi krisis siber yang berjalan.
- Keempat, perwakilan mempresentasikan keputusan strategis mereka.
- Kelima, seluruh pihak melakukan evaluasi dan refleksi mendalam secara bersama-sama.
Melalui pendekatan taktis ini, para peserta dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah serangan siber bertransformasi menjadi krisis besar, sekaligus mempelajari bagaimana cara meresponsnya secara tepat guna.
Membawa Pulang Solusi Nyata
Selain mendapatkan pengalaman simulasi, para peserta juga dibekali dengan tiga instrumen proteksi yang siap diaplikasikan di perusahaan masing-masing. Output pertama adalah Security Flow, sebuah matriks risiko yang berfungsi memetakan prioritas pengamanan berdasarkan probabilitas dampak insiden. Selanjutnya, output kedua berupa Security Design Concept yang memberikan cetak biru mengenai alur data yang aman, batas kepercayaan sistem, serta otentikasi berlapis. Sementara itu, output ketiga adalah Security Skills Assessment & Recognition yang berguna untuk mengukur sejauh mana kesiapan kompetensi tim internal dalam menghadapi serangan.
Baca Juga
Advertisement
President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher, menegaskan bahwa ancaman siber masa kini telah berevolusi menjadi isu korporat di tingkat manajemen, bukan lagi sekadar masalah teknis divisi IT.
“Ketika serangan siber terjadi, dampaknya akan langsung melumpuhkan operasional bisnis, merusak layanan konsumen, hingga menghancurkan reputasi perusahaan. Oleh karena itu, kesiapan ini adalah tanggung jawab bersama pimpinan,” papar Patrick. Ia juga menambahkan bahwa GNKS berkomitmen membantu organisasi pulang membawa modal mitigasi risiko yang siap pakai agar korporasi menjadi jauh lebih tangguh.
Menjaga Keberlanjutan Ekonomi Digital
Di sisi lain, Deputi Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas, turut memberikan dukungannya. Menurut Slamet, perluasan kapasitas keamanan siber ini adalah fondasi utama dalam menjaga roda ekonomi digital nasional agar tetap berputar dengan aman. Hubungan yang sinergis antara pemerintah dan sektor swasta dinilai menjadi kunci utama agar ruang digital Indonesia tetap tepercaya.
Baca Juga
Advertisement
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Umum ADIGSI, Firlie Ganinduto, menyoroti pentingnya pemerataan edukasi siber ke berbagai wilayah di luar Pulau Jawa. Firlie menilai Makassar memiliki posisi yang sangat strategis sebagai roda penggerak ekonomi di Indonesia Timur, sehingga sangat tepat menjadi pusat penyebaran gerakan GNKS ini.
Sebagai penutup, rangkaian Gerakan Nasional Ketahanan Siber ini dipastikan tidak akan berhenti di Makassar. Sepanjang tahun 2026, ITSEC Asia bersama ADIGSI berkomitmen untuk terus melanjutkan estafet edukasi ini ke beberapa kota besar lainnya, meliputi Pontianak, Bali, Yogyakarta, hingga Medan. Kolaborasi masif ini diharapkan mampu membangun benteng pertahanan siber yang solid demi menjaga kepercayaan pasar terhadap ekosistem digital Indonesia.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.