Platform media sosial X (Twitter) kembali melakukan perubahan signifikan. Kali ini, fokusnya adalah pada sistem monetisasi kreator yang kini diarahkan untuk lebih mengutamakan konten lokal dibanding jangkauan global.
Langkah ini diumumkan langsung oleh Nikita Bier melalui unggahannya pada Rabu (25/3/2026). Ia menjelaskan bahwa mulai Kamis, perusahaan akan memperbarui skema pembagian pendapatan atau revenue sharing agar lebih selaras dengan arah pengembangan konten di platform.
Menurutnya, perubahan ini bukan sekadar penyesuaian teknis, melainkan bagian dari strategi besar untuk membangun ekosistem konten yang lebih relevan di setiap wilayah. “Kami akan memperbarui insentif pembagian pendapatan untuk memberi penghargaan lebih pada konten yang ingin kami lihat berkembang di X,” tulisnya.
Baca Juga
Advertisement
Fokus pada Audiens Lokal
Lebih lanjut, sistem baru ini akan memberikan bobot lebih besar terhadap impresi atau tayangan yang berasal dari wilayah asal kreator. Artinya, interaksi dari pengguna di negara yang sama akan menjadi faktor penting dalam menentukan besaran pendapatan.
Dengan kata lain, kreator kini didorong untuk membangun basis audiens di negara masing-masing. Tidak hanya itu, mereka juga diharapkan menjangkau pengguna di wilayah dengan kedekatan bahasa atau budaya.
Perubahan ini dinilai sebagai upaya untuk menciptakan konten yang lebih kontekstual. Sebab, selama ini banyak kreator yang justru menargetkan audiens dari negara tertentu seperti Amerika Serikat atau Jepang demi meningkatkan peluang monetisasi.
Baca Juga
Advertisement
Namun demikian, Nikita Bier menegaskan bahwa praktik tersebut kurang sejalan dengan visi platform. Ia berharap kebijakan baru ini bisa mengurangi insentif untuk “mengejar perhatian” dari wilayah tertentu secara tidak organik.
Upaya Kurangi Manipulasi Audiens
Selain itu, perubahan ini juga bertujuan untuk mengurangi praktik manipulasi algoritma. Sebelumnya, sejumlah kreator dinilai sengaja mengarahkan kontennya agar viral di negara dengan nilai monetisasi lebih tinggi.
Akibatnya, percakapan di platform menjadi kurang relevan dengan kondisi lokal. Bahkan, tidak jarang topik yang sebenarnya spesifik di satu negara justru didominasi oleh opini dari luar.
Baca Juga
Advertisement
Melalui pembaruan ini, X (Twitter) ingin menciptakan ruang diskusi yang lebih beragam dan inklusif. Konten yang muncul di timeline diharapkan lebih sesuai dengan realitas sosial dan budaya masing-masing pengguna.
“Kami ingin mendorong kreator untuk membangun komunitas lokal. Dengan begitu, X akan menjadi tempat yang lebih kaya dengan perspektif dari seluruh dunia,” tambahnya.
Gelombang Kritik dari Kreator
Meski memiliki tujuan yang jelas, kebijakan ini tidak serta-merta diterima oleh semua pihak. Sejumlah pengguna langsung menyuarakan keberatan mereka.
Baca Juga
Advertisement
Sebagian kreator menilai perubahan ini berpotensi merugikan mereka yang telah sukses membangun audiens global. Pasalnya, sistem baru dianggap tidak sepenuhnya adil bagi kreator yang pengikutnya tersebar di berbagai negara.
Salah satu pengguna bahkan menyoroti ketimpangan jumlah pengguna di tiap wilayah. Ia berpendapat bahwa kreator dari negara dengan basis pengguna kecil bisa terdampak lebih besar.
Di sisi lain, ada pula kritik yang datang dari kreator dengan kondisi khusus. Beberapa di antaranya mengaku terpaksa membangun audiens di luar negara asal karena berbagai alasan, termasuk keterbatasan akses atau situasi pribadi.
Baca Juga
Advertisement
Respons emosional pun muncul, mencerminkan kekhawatiran bahwa kebijakan ini tidak mempertimbangkan realitas yang dihadapi sebagian kreator.
Dukungan untuk Ekosistem yang Lebih Sehat
Namun begitu, tidak semua reaksi bernada negatif. Sebagian pengguna justru menyambut baik perubahan ini.
Mereka menilai bahwa fokus pada audiens lokal dapat menciptakan percakapan yang lebih relevan dan tidak didominasi oleh perspektif global. Terlebih, dalam isu-isu sensitif seperti politik, pendekatan berbasis wilayah dianggap lebih tepat.
Baca Juga
Advertisement
Beberapa pengguna bahkan menyebut langkah ini sebagai upaya untuk mengurangi intervensi dari akun luar negeri dalam diskusi domestik. Dengan demikian, arah percakapan bisa lebih mencerminkan kondisi sebenarnya di masing-masing negara.
Selain itu, kebijakan ini juga diyakini dapat memperkuat komunitas lokal. Kreator akan lebih termotivasi untuk menghasilkan konten yang dekat dengan kehidupan sehari-hari audiensnya.
Antara Jangkauan Global dan Relevansi Lokal
Perdebatan yang muncul menunjukkan adanya dilema klasik dalam dunia digital: antara jangkauan global dan relevansi lokal.
Baca Juga
Advertisement
Di satu sisi, internet memungkinkan kreator menjangkau audiens tanpa batas geografis. Namun di sisi lain, relevansi konten tetap menjadi faktor penting dalam membangun engagement yang berkualitas.
Kebijakan baru dari X (Twitter) ini bisa dilihat sebagai upaya untuk menyeimbangkan keduanya. Meski demikian, implementasinya masih akan terus menjadi sorotan.
Ke depan, menarik untuk melihat bagaimana kreator beradaptasi dengan perubahan ini. Apakah mereka akan mulai fokus pada komunitas lokal, atau justru mencari strategi baru untuk tetap menjangkau pasar global?
Baca Juga
Advertisement
Yang jelas, perubahan ini menandai babak baru dalam evolusi monetisasi di media sosial—di mana kedekatan dengan audiens lokal kini menjadi kunci utama.
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.